Jumat, 25 Januari 2013

Aku Hanya Perlu Mengingat

“Bermimpilah! Maka suatu ketika engkau akan bangun, Jika tidak kau akan mati selamanya” KopiSusu
Kelas tiga sd, kami semua masih begitu kecil, polos dan penuh dengan perasaan sosial serta ambisi yang besar untuk mewarnai hidup dimasa depan nanti. Ketika guru awal tahun pelajaran masuk kelas dan memperkenalkan diri, mereka bertanya tentang cita-cita dan mimpi yang ingin diraih.
“dokter”
“guru”
“Pilot”
“tentara”
Macam-macan lagi yang mereka sebutkan...

Hal yang paling menakjubkan yang pernah kulihat dari teman-teman sebayaku, tak takut, tak pernah berfikir panjang, jawaban lacar dan bersungguh-sungguh.

“Hebat” kata guruku, “dokter membantu yang sakit, guru pahlawan tanpa tanda jasa, pilot terbang keangkasa”, seketika itu pun hati kami berbunga-bunga.

Mulai saat itulah, ketika sore begitu tenang, kulihat awan dengan bentuknya yang bercorak itu, benar-benar penuh dengan berbagai harapan yang akan aku lakukan bila mencapai tahap dewasa nanti, tentunya juga menikah dengan orang yang kutaksir saat itu ‘wanita paling cantik dikelasku’ menyenangkannya. >,</

Beberapa tahun berjalan cepat, SD, SMP, SMA, seakan tenggelam dalam kepanikan untuk mendapatkan uang dan masa depan yang sukses. Kehidupan berjalan cepat tanpa memiliki nilai yang berarti, email yang penuh dan kubalas demi pekerjaan, waktu-waktu yag tersita untuk beragam kegiatan yang membosankan, tapi aku bertahan demi sesuatu yang sebenarnya aku juga tak mengerti itu apa. Hingga akhirnya aku sadar, melihat tulisan tanganku ketika masih mungil itu, sebuah surat yang terselip diantara buku pelajaran ketika sd dulu.

Ke esokan harinya “aku berhenti dari perusahaan!”

Membangun apa yang aku yakini, melangkah memantapkan tujuan. Ketika aku mulai takut akan wujud seramnya kehidupan yang ganas, aku hanya perlu mengingat, masa-masa tanpa takut akan mimpi, masa-masa ketika melihat awan itu begitu menyenangkan, masa ketika harapanku untuk kehidupan benar-benar jujur. Aku akan berjalan dan mewujudkan, karena ‘aku sudah terbangun’ dari tidur panjang ini.
Selamat datang kembali masa-masa menyenangkanku.

Aku tahu dulu kau begitu kecil dan mungil, sekarang kembalilah, kita akan menulis kehidupan >,</

Oh maaf, walaupun ini seperti nyata, kukatakan ini hanya fiksi belaka
Secangkir Kopi Susu untuk cerita kehidupan kita yang kadang terlihat berkabut
KAU HANYA PERLU MENGINGAT


CREATE FOR YOBIKO MAGAZINE
THANKS ARI SIGIT
*Tentang Mimpi* 

15 komentar:

  1. Saya suka...
    saya ragu apakah realitas yang mengotori mimpi kita
    atau sisa umur yang sedang berkurang. atau kita memang sudah berhenti bermimpi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebanyakan karena realitas
      jadi mimpi yang jauh dari kenyataan di buang jauh2

      padahal memelihara mimpi
      mewujudkan mimpi bagian
      terindah dari kehidupan
      |

      ceilehh
      :D

      Hapus
  2. .. mengingat masa pd waktu kita kecil itu cukup menyenangkan. namun sekarang,, yach,, beginilah kenyataan nya. huhh ..

    BalasHapus
  3. Sungguh, aku kira ini beneran... udah siap2 mau nanya "apa tulisan di surat yang terselip di buku itu?"

    BalasHapus
  4. fiksinya keyenn.... beyond reality

    BalasHapus
  5. terlebih lagi jika yg dimaksud adalah 'kesadaran' :)

    BalasHapus
  6. Sekeren2nya fiksi umumnya di buat berdasarkan pengalaman yang buat

    entah ini tulisan
    -,-
    fiksi sama fakta berbaur jadi satu
    :D
    >,<

    BalasHapus
  7. Aku kira juga true story :D

    But, inspiratif mas :)
    Suka quotenya :))

    BalasHapus