Selasa, 17 Maret 2015

Sebuah Pos tentang Anugrah

Tidak semua orang diberikan anugrah sejak lahir, tapi kita semua bisa mengusahakannya

Saya sempat baca buku, tapi lupa buku apa, yang saya ingat kutipan yang diatas itu.Banyak yang mempermasalahkan keceradasan, termasuk saya dulunya. Semua insan tercipta sama, secara normal terlahir lengkap dengan kedua tangan, kaki, otak yang sempurna. ya itu normalnya, sebagian lagi saya bilang diberikan anugrah kecerdasan yang istimewa.

Berbicara masalah anugrah, maksud saya itu ya bawaan lahir,yang kadarnya sudah pasti gak bakalan bisa diutak atik lagi, seperti kecerdasan, lebih tepatnya bukan porsi otaknya yang lebih banyak, tetapi kemampuan neuron otaknya lebih cepat dari rata-rata manusia biasanya, kemampuan memilih warna (khusunya bagi wanita, memiliki kelebih nuntuk banyak membedakan warna" searcing aja do google kalo mau"), kemampuan menangkap nada, kemampuan merekam moment dan memvisualisasikan imajinasi.

Kemudian ada lagi anugrah tubuh yang lebih besar, suara yang dari sananya sudah merdu, atau ketampanan dan kecantikan yang luarbiasa. Itu sungguh anugrah, Kalo mau di asah sesuai kemampuannya, pasti skilnya mendewa. Itu pasti.

Temen saya si penyanyi

Saya sempat ya berbincang-bincang sama salah satu personel band indie, lebih tepatnya kawan main sih. Kadang karena tampang yang gak seberapa bagusnya, suara yang tak ada unik-uniknya, banyak penolakan dari temen. Bahkan sangat suram sekali bisa masuk jalur mainstream untuk recording lagu. "katanya dia" banyak akal-akalan kalo gak mau nyerah.

"Kalo gak bisa nyanyi pake suara bagus, coba aja buat lagu yang pas sama suara kita" petuahnya sih begitu, setelah bertahan lama, saya denger-denger sih ini tahun kelimanya band itu, sekarang malah tambah eksis, dan mulai dikenal. Dasarnya emang orangnya kreatif, pemasaran mamnggung pun gak pake cara biasa dan sempat rekaman pake dana indie.

"di situlah anugrah dari kemauan"

Temen saya si ilustration artist

Awalnya saya cuman kenal dari fb, setelah lulusan sma masih ngambang mau ngapa-ngapain saya banyak ikut kegiatan komunitas di solo. Lah kebetulan dari sana saya bertemu banyak temen. Ada orang yang bener-bener saya kagumi, inisialnya A saja :D.

Anak dkv salah satu perguruan tinggi di solo, "mas mbak, tidak semua orang yang kuliah di dkv itu bisa ngambar" kadang hanya ada yang memang senang saja sama yang namanya menggambar tapi anatominya bahkan garisnya sangat kacau sekali.

Lah ini mungkin kebetulan, untung saja hidup dijaman sekarang, dan dia ngambilnya jurusan desain grafis pula. Konsep sia A ini sangat matang sekali,walau gambarannya agak kacau, kalo di perbaiki sedikit di program pengolahan grafis seperti Coreldraw dan Ai. Serta mau  bereksperimen dengan warna hasilnya jadi luar biasa. Sekarang dia jadi ilustrator lebih tepatnya vektor artist. Dan sudah dikenal sampai manca negara.

"Disitulah anugrah dari ketekunan"


Mungkin saja bagi mereka yang telah diberikan anugrah harusnya bisa berbangga diri sudah selangkah lebih maju dari yang lainnya. Mampu dengan cepat menangkap moment dan membangun imajinasi yang utuh pasti sangat berharga bagi seniman 2D tapi bagi mereka yang biasa saja, masih banyak kesempatan untuk mengejar ketertinggalan dengan membangun konsep secara perlahan.

Bagi mereka yang suaranya bagus ataupun rupawan, mungkin saja itu modal awal yang bagus untuk memulai di industri tarik suara.

Di luar itu semua, anugrah manusia semuanya sama. Dapat diusahakan, dengan meningkatkan jam terbang maupun mnyisakan waktu luang untuk mengasah kemampuan. Serta eksekusi yang bagus, mengerti kemauan penikmat karya kita, bahkan kadang orang yang diberi anugrah bagus pun tersandung oleh penikmat. Anugrah bawaannya tak mampu menarik hati mereka.

Akhirnya sampai di sini dulu, sebuah artikel yang saya dedikasikan untuk diri saya sendiri. Agar lebih mau berjuang menciptakan karya yang bagus yang kadang juga malu pada skill gambar yang tak seberapa. Semoga saya juga jadi lebih tekun, dan berni meluangkan waktu lebih dari orang-orang disekitar saya yang memang sudah hebat dari sananya.

1 komentar: